Apa saja sunnah Nabi yang sering ditinggalkan oleh umat Muslim saat ini?
Secara ringkas, berikut adalah 5 sunnah Rasulullah SAW yang sederhana namun kerap terlupakan dalam kesibukan sehari-hari:
- Menjilati jari-jemari setelah makan sebelum mencucinya (untuk meraih keberkahan terakhir).
- Bernapas tiga kali di luar gelas saat minum (tidak meminum sekaligus dalam satu napas).
- Memperbanyak istighfar dalam majelis atau pertemuan (minimal 100 kali).
- Bersedekah saat bertaubat (menyisihkan sebagian harta sebagai bukti kesungguhan).
- Tidak melepas jabat tangan lebih dulu saat bersalaman dengan orang lain.
Mengapa hal-hal kecil ini penting? Karena mencintai Allah SWT berarti mengikuti jejak Rasulullah SAW. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana kamu bisa menghidupkan kembali kebiasaan mulia ini di tengah gaya hidup modern saat ini .
Mungkin kamu sudah salat lima waktu, puasa Ramadan lancar, dan zakat pun tertunaikan. Namun, hati rasanya masih ingin lebih dekat lagi dengan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Seringkali, kita fokus pada ibadah-ibadah besar, tapi melupakan detail-detail kecil yang justru menjadi signature atau ciri khas kecintaan seorang mukmin kepada Nabinya. Imam Hasan Al-Basri pernah mengingatkan bahwa tanda cinta ulama (dan kita semua) kepada Nabi Muhammad SAW terlihat dari seberapa serius kita mengikuti sunnah-sunnah beliau.
Sayangnya, karena arus kesibukan dan rasa “malu” atau dianggap aneh, banyak sunnah Nabi yang sering ditinggalkan. Padahal, amalan ini ringan, tidak memakan waktu, dan bisa menjadi penambal kekurangan dalam ibadah wajib kita. Mari kita refleksikan bersama dan lihat bagaimana kita bisa mengamalkannya hari ini.
1. Bagaimana Adab Makan yang Sering Terlupakan?
Salah satu momen yang paling sering kita lakukan setiap hari adalah makan. Namun, justru di meja makan inilah banyak sunnah yang terlewat. Salah satunya adalah menjilati jari-jemari setelah makan sebelum mencucinya.
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian telah selesai dari makannya, maka janganlah ia mencuci tangannya, kecuali sesudah ia menjilati jari-jemarinya.”
Mengapa Kita Sering Meninggalkannya?
Di zaman sekarang, tisu basah dan wastafel sudah tersedia di mana-mana. Ada anggapan bahwa menjilati jari itu “jorok” atau tidak sopan jika dilihat orang lain. Padahal, jika tangan kita bersih sejak awal, ini adalah syariat yang mulia.
Keutamaan dan Logika Keberkahan
Rasulullah mengingatkan bahwa kita tidak pernah tahu di bagian makanan mana keberkahan itu berada. Apakah di suapan pertama? Atau justru sisa makanan yang menempel di jari? Menjilati jari adalah bentuk penghargaan terhadap rezeki Allah, memastikan tidak ada satu butir nasi atau sisa lauk yang terbuang sia-sia.
Contoh Penerapan Sehari-hari
Bayangkan kamu sedang makan nasi padang atau pecel lele menggunakan tangan (muluk).
- Situasi: Setelah suapan terakhir masuk ke mulut.
- Tindakan: Jangan buru-buru mengambil tisu atau air kobokan. Bersihkan sisa bumbu di jempol, telunjuk, dan jari tengah dengan mulutmu.
- Niat: Lakukan dengan niat meniru Nabi. Setelah bersih, barulah cuci tangan dengan sabun.
2. Mengapa Cara Minum Kita Sering Keliru?
Kamu mungkin sering melihat orang yang minum terburu-buru, teguk demi teguk tanpa jeda, seolah sedang kejar setoran. Atau mungkin kamu sendiri sering melakukannya setelah olahraga atau saat cuaca panas terik.
Sunnah yang sering ditinggalkan kedua adalah mengambil napas tiga kali di luar gelas saat minum.
Dari Anas bin Malik, diceritakan bahwa Rasulullah bernapas tiga kali ketika minum dan bersabda:
“Sesungguhnya dengan begini haus lebih hilang, lebih lepas, dan lebih enak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa Maksudnya “Di Luar Gelas”?
Artinya, kamu tidak mengembuskan napas (karbondioksida) ke dalam air yang sedang kamu minum. Caranya:
- Minum satu tegukan, jauhkan gelas dari mulut, lalu buang napas.
- Minum lagi, jauhkan gelas, buang napas.
- Minum lagi hingga lega, jauhkan gelas, buang napas.
Manfaat untuk Kamu
Secara kesehatan, minum perlahan membantu tubuh menyerap air dengan lebih baik dan tidak mengagetkan organ dalam. Secara emosional, ini melatih kesabaran dan ketenangan (mindfulness).
Contoh Penerapan Sehari-hari
Saat kamu sedang break kerja dan minum es kopi atau air mineral:
- Jangan langsung menghabiskan setengah botol dalam satu tarikan napas.
- Nikmati perlahan. Beri jeda. Rasakan kesegarannya.
- Lakukan sambil duduk, bukan sambil berdiri atau berjalan tergesa-gesa.
3. Apa yang Harus Dilakukan Saat Nongkrong atau Rapat?
Kita sering berkumpul, entah itu rapat kantor, nongkrong di kafe bareng teman, atau sekadar ngobrol santai di ruang tamu. Tapi, sadarkah kamu berapa banyak kata-kata sia-sia yang mungkin terucap?
Sunnah ketiga yang jarang dilakukan adalah memperbanyak istighfar saat bermajelis.
Sahabat Abdullah bin Umar menceritakan bahwa para sahabat pernah menghitung Rasulullah mengucapkan istighfar sebanyak 100 kali dalam satu kali duduk majelis. Doanya berbunyi:
“Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rahim.”
(Ya Tuhanku, ampunilah saya serta terimalah taubat saya, sesungguhnya Engkau adalah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang).
Mengapa Ini Penting?
Pertemuan kita seringkali diwarnai ghibah tipis-tipis, candaan yang berlebihan, atau omongan yang kurang bermanfaat. Istighfar ini berfungsi sebagai “pembersih” jiwa agar saat kita bangkit dari tempat duduk, dosa-dosa kecil dalam pertemuan itu terhapus.
Contoh Penerapan Sehari-hari
- Saat Meeting Zoom: Sambil mendengarkan presentasi rekan kerja, gerakkan lisanmu pelan-pelan mengucapkan istighfar.
- Saat Kopi Darat: Di sela-sela obrolan dengan teman, sisipkan dzikir ini di dalam hati atau lisan. Tidak perlu berteriak, cukup kamu dan Allah yang tahu.
4. Bagaimana Cara Bertaubat yang “Totalitas”?
Setiap manusia pasti berdosa. Namun, cara kita merespons dosa itulah yang membedakan kualitas iman. Sunnah keempat yang sering dilupakan adalah bersedekah semampu kita ketika bertaubat dari sebuah dosa.
Ini didasarkan pada kisah Ka’ab bin Malik yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya sebagai bentuk tobat. Namun, Rasulullah menahannya dan menyarankan untuk menyisihkan sebagian saja. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa bersedekah saat bertaubat adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
Hubungan Sedekah dan Tobat
Sedekah memiliki kekuatan memadamkan murka Allah, sebagaimana air memadamkan api. Ketika kamu merasa bersalah telah melakukan maksiat, iringi penyesalanmu (istighfar) dengan mengeluarkan sebagian harta. Ini adalah bukti fisik bahwa kamu serius ingin kembali ke jalan yang benar.
Contoh Penerapan Sehari-hari
Misalkan kamu baru saja menyadari telah menyakiti hati orang tua atau melakukan kecurangan kecil:
- Segera mohon ampun kepada Allah (dan meminta maaf kepada orang bersangkutan).
- Buka aplikasi mobile banking atau dompet digitalmu.
- Transfer sedekah ke lembaga amal atau berikan uang tunai kepada orang yang membutuhkan di jalan.
- Niatkan: “Ya Allah, sedekah ini sebagai saksi kesungguhan tobatku.”
5. Adab Jabat Tangan: Siapa yang Melepas Duluan?
Jabat tangan adalah simbol perdamaian dan persaudaraan. Di Indonesia, budaya salaman sangat kental. Tapi, ada satu detail sunnah yang sering luput, yaitu tidak melepas tangan lebih dulu sampai orang lain yang melepaskannya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
“Dahulu, jika Rasulullah menjabat tangan seseorang, ia tidak akan melepaskan tangannya, kecuali orang yang dijabat tangannya itu melepasnya terlebih dahulu.”
Filosofi di Balik Genggaman
Menahan tangan menunjukkan kehangatan, perhatian penuh, dan penghormatan. Ketika kamu buru-buru menarik tangan, lawan bicaramu mungkin merasa kamu tidak nyaman, sombong, atau ingin segera pergi. Rasulullah adalah sosok yang sangat memuliakan lawan bicaranya, beliau memberikan perhatian utuh.
Contoh Penerapan Sehari-hari
- Bertemu Teman Lama: Saat bersalaman, tatap matanya, senyum, dan biarkan genggaman tanganmu bertahan hangat. Jangan buru-buru dilepas sampai temanmu yang melonggarkan genggamannya.
- Setelah Salat Berjamaah: Jika kamu bersalaman dengan jamaah di kanan-kirimu, lakukan dengan tulus. Jangan sekadar menempelkan telapak tangan lalu tarik cepat-cepat.
Mengapa Kita Perlu Menghidupkan Sunnah Ini Kembali?
Mungkin kamu bertanya, “Apa untungnya buat aku? Bukankah yang wajib saja sudah cukup?”
Saudaraku, berpegang teguh pada sunnah di zaman di mana orang mulai melupakannya adalah prestasi luar biasa di mata Allah. Ada beberapa keutamaan besar yang menanti:
- Meraih Cinta Allah: Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31, bahwa syarat dicintai Allah adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad SAW.
- Menyempurnakan Ibadah Wajib: Salat kita mungkin sering tidak khusyuk. Puasa kita mungkin banyak bolong pahalanya karena emosi. Sunnah-sunnah inilah yang akan menambal kekurangan tersebut di akhirat nanti.
- Identitas Diri: Mengamalkan sunnah membuat kita punya identitas yang kuat sebagai Muslim yang bangga dengan nabinya, bukan sekadar ikut-ikutan tren dunia.
Langkah Kecil untuk Memulai
Menghidupkan sunnah Nabi yang sering ditinggalkan tidak harus menunggu kamu jadi ustaz atau ustazah. Kamu bisa memulainya detik ini juga.
Cobalah pilih satu saja dari lima poin di atas untuk kamu praktikkan secara konsisten minggu ini. Misalnya, minggu ini fokus memperbaiki cara minum. Minggu depan, fokus pada adab jabat tangan.
Jika bukan kita yang menghidupkan sunnah-sunnah indah ini di tengah keluarga dan lingkungan kita, lalu siapa lagi? Jangan sampai ajaran penuh kasih sayang dan etika ini hilang ditelan zaman hanya karena kita malu atau malas memulainya.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap gerak-gerik, dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mari mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini.